Kamis, 22 Januari 2015

Nafs membuat kita selalu ingin terlihat sempurna

Menjadi manusia terkadang kita akan mencari atau menjadikan alasan sebuah kesempurnaan, dan itulah alasan-alasan penghalang kita melalukan kebaikan. Nafs itulah yang membuat kita mempunyai ke-inginan terlihat sempurna. Cara mengatasinya adalah :

1.  Tidak ada alasan untuk menunda, untuk hal tertentu terkadang kita bisa melakukan hal ini tetapi untuk hal lain terkadang kita lemah
2.   Dekati Al-quran itu lebih bagus
3.   Membuat standarisasi yang terbaik untuk diri sendiri
4.   Ketika menyampaikan nasehat atau kritikan, tujukan hal tesebut untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, karena ketika kita menyampaikan apa yang kita mau, jika tidak didasarkan untuk mengubah diri kita sendiri akan merasa orang lainlah yang harus berubah. Bukan kita. #selfttalk. Hal ini untuk mencegah kesombingan yang berada dalam diri kita
5.  Mintalah petunjuk kepada Allah sebelum menasehati seseorang , bahwa apa yang kita sampaikan membuka pintu hidayah.
6. Jika kita berniat menasehati orang lain, maka kita bisa jadi gagal, karena niatan kita sendiri. Kembalikan segalanya untuk perbaikan diri kita sendiri.
7.   Berpura-pura sabar itu lebh baik. Engan seperti itu kita akan memaksa diri kita untuk perlahan bersabar.
8.   Nafs itu dekat sekali, ketika kita sudah mulai berubah perlahan, maka kemanisan-kemanisan yang akan ditimbulkan bisa jadi menjadi “kesombongan” dalam diri
9.   Baca diri

10.    Berlatihlah unuk mengendalikan diri

#ustadz_hasan

Bagaimana pemimpin itulah rakyatnya

Saat ini yang terjadi bukanlah menyalahkan siapa pemimpin kita, tetapi bagaimana kita sebagai rakyat haruslah berbuat baik. Allah tidak akan diam dengan sebuah keadaan, jika posisisnya terbalik. Rakyat berbuat baik, bisa jadi Allah akan menjadikan baik pemimpin kita. Unsur yang harus ada dalam sebuah Komponen berjamaah :

1.  Instruksi
2.  Pemimpin
3.  Yang dipimpin
4.  Arah/tujuan
5.  Aturan

6.  Barisan 

Selasa, 02 Desember 2014

Sabar itu ada Batasnya !!!

Sampai kapan kita harus bersabar?

Ini adalah pertanyaan klasik yang sering diutarakan
an orang-orang.
Milih mana balas menyakiti? Atau membalas dengan kebaikan?
Allahkan membolehkan kita membalas 1 hal yang sama dengan apa yang telah diperbuat?
Tidak kah demikian?
1 sama 1 adalah seimbang 1-1 =0
Bagaimana jika 1 keburukan dibalas dengan 1 kebaikan? Atau bisa diistilahkan dengan 
1 keburukan – 0 keburukan = 1
1-0=1
1 angka itu menghasilkan sebuah kebaikan. Benarkah demikian?

1 kejutekan saya, dan saya membuahkan kejutekan juga dari ibu penjual kacang di jembatan penyebrangan duren 3. Bukan jutek, si lebih tepatnya, kita hanya diam dan saling melihat. Dan tertanggal 19 November 2014, saya berjanji untuk memberikan senyuman saya untuk semua orang. Dan agak kagok si sebenarnya, dan malam itu saya pulang kuliah, dengan jalan yang sama ditempuh harus melewati ibu-ibu penjual kacang itu, ketika saya turun dari kopaja, beliau menatap saya, dan bismillah senyum. Subhanallah ibu itupun tersenyum juga. Ini berlaku 1+1= 2 . 
Ketika manusia itu adalah sebagai sumber dari masalah, maka kita harus menunjuk diri kita sebagai “solusi”. Mulailah dengan tersenyum, “bi” dari kata bismillah. 

Kembali kepada sebuah kesabaran
Ketinggian akhlaq manusia itu terletak pada saat tersakiti dan memberikan akhlaq yang paling mulia. Kenapa bisa begitu? 
Sama seperti 1+1= 2

Banyak orang yang berifikir bahwa berbuat baik itu susah, dan berbuat buruk itu gampang. Padahal malah sebaliknya. Berbuat baik itu mudah, dan berbuat buruk itu susah. Dengan berbuat baik, kita akan mendapatkan balasan, langsung ataupun menjadi tabungan kita dalam kehidupan kekal nanti seperti senyuman yang sedang saya praktekkan diatas. Tetapi jika dalam keburukan, sebuah keburukan, akan membekas, penyesalan yang lama dan berbekaslah yang akan muncul. Karena fitrah manusia adalah dalam kebaikan. 

Bulan safar saat ini adalah kategori bulan kesabaran.
 Bulan safar itu identik dengan :
1. Titik “0”
2. Warna kuning
3. Musim paceklik
4. Kuning Telur

Muslim yang keren itu, 
1. Pantang mengeluh
2. Pantang Menyerah
3. Makin bersabar
4. Makin dekat dengan tujuan
5. Tidak gampang lebay
6. Tidak gampang tersulut emosi
7. Tenang
8. Produktif
9. Solutif

Apa sabar itu?
Sabar itu bebas ruang, 
sabar itu ber target,
sabar itu tidak sama dengan menunggu 
sabar itu pada pukulan pertama
sabar itu gigih pada tujuan

“A” 
“Sho”
 “Ba” adalah langkah pertama menuju repetisi dalam proses

Terkadang kita akan mengalami sebuah titik kejenuhan. Bagaimana cara menghadapinya? Kita harus berkalibrasi dengan diri kita. Misalnya berkebun atau melihat yang hijau-hijau ini adalah kebiasan orang “T”, melihat air atau biru-biru pada orang “I”, dengerin orang ngobrol untuk orang “F”, Jalan-jalan untuk orang “S” dan menghayal adalah kebiasaan dari orang “In” .

Bagaimana cara melatih kesabaran?
Berlatihlah untuk tersenyum, dengan semua kejadian yang ada dihadapan kita. Terkadang memang kita harus membohongi diri kita untuk bersabar. Tetapi itu lebih baik, denga begitu kita akan berlatih dalam melatih kesabaran. Sampai kapan? 

Ingatkah kita, bahwa segala sesuatu itu takdir Allah?
Trz kalau sesuatu itu takdir Allah kita akan menyerah begitu saja? 
Allah itu akan menganti hati manusia ketika dia kuat, kapan? Ketika dia bersabar ^^.
Ingat kembali definisi sabar salah satunya adalah gigih.

Untuk mencapai sebuah tujuan kegigihan itu sangatlah diperlukan. Jangan menunggu sempurna, karena hanya Allah yang sempurna, dan Allah pulalah yang akan menyempurnakan kegigihan yang telah kita lakukan. 

Jika kita melakukan kebaikan menunggu sempurna dulu, kapan kita akan berbuat baik? Seperti halnya kita menjadi volunteers, jika hanya menunggu saat banyak rezeki, atau waktu luang, kita tidak akan bisa menyempatkan hal itu. Tetapi jika keadaannya yang dibalik, berbuat baik saat sedikit rezeki itu akan membuahkan rezeki yang berlimpah. 
Berbuat baik itu untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, jadi kenapa harus ditunda? 
Begitu pula bersabar, itu untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain.



Jadi sampai kapankah kita harus bersabar?
Ar Rad : 24
“salaamun 'alaykum bimaa shabartum fani'ma 'uqbaa alddaari”
24. (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" . Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. . Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu
Ini adalah ucapan malaikat kepada penghuni bumi yang masuk “Syurga”. Jadi sampai kapan kita harus bersabar? Sampa
i depan pintu syurga.