Minggu, 18 Mei 2014

AndroHid

#Part 1 #Androhid 353

Bismillahirahmanirrahim....

Berawal dari seorang sahabat yang menshare, acara dari DT(Darut Tauhid). Ada 2 Kegiatan yang pertama yaitu : lupa namanya, dilaksanakan selama 2 bulan penuh sabtu dan minggu harus konsisten, dan yang ke 2 programnya bernama Androhid ternyata bukan 2 kali pertemuan tapi 1 Tahun subhanallah. Jujur saya tidak faham dengan program ini, sekilas hanya melihat tentang "Pendidikan Karakter" dan tidak ada yang kebetulan didunia ini, ini adalah bekal ilmu yang ingin saya cari guna menunjang "BCBS" Berbagi Ceria Bersama SIGi, yang merupakan salah satu program dari SIGi, yaitu pendidikan karakter terhadap anak.

Akhirnya saya memilih AndroHid, yang diawali dengan Pre Test yang isinya tentang "Psikologi". Ntah seperti apa hasilnya saya belum mengetahuinya ^^, terlepas dari itu focus pada lmu yang akan didapat dan mengaplikasikannya kepada para penerus bangsa kita "Pasukan Segilima" periode 3 (insyaAllah) dan untuk para calon kakak-kakak pendampingg terutama buat saya sendiri agar menjadi lebih baik lagi.

Hari ini Minggu, 18 Mei 2014. Orientasi Pertama dimulai

Kata hikmah bikinan saya adalah :

"Ada sebagian dari diri kita yang menjadi hak orang lain. Maka dengan berbagi kita melepaskan hak orang lain yang ada dalam diri kita. Karena bagiku, berbagi adalah KEBUTUHAN".
untuk kata-kata hikmah dari sahabat-sahabat yang lain bisa dilihat di : Kata Hikmah

Kata hikmah ini akan berlaku untuk diri kita dan orang lain. Kenapa seperti itu, akan dijelaskan pada tahap selanjutnya.

AndroHid
Andro : Muda dewasa
Hid : Bertauhid

Androhid : Muda Dewasa yang berTauhid
inilah inti dari kegiatan ini.

Pertama Standar isi dari AndroHid (sumber -> Al-Fajr : 27-30)

  1. Jiwa yang tenang
  2. Jangan Takut Jangan Sedih
  3. Akhirnya kutemukan pribadi
  4. Membangun Surga hari ini
#Jiwa yang tenang, merupakan kunci utama kita untuk "move on" sebelum kita bergerak. Mari kita identifikasi dalam diri kita :
  • Hal apa yang membuat kita terbebani?
  • Apa yang kurang dalam diri kita?
  • apa yang melemahkan kita?
dari beberapa hal diatas, setelah kita menemukan jawabannya maka "HILANGKAN". Setelah kita berasil menghilangkan selanjutnya adalah "AKSI" cara mengawalinya yaitu dengan menambah amal sholeh /perbuatan yang baik, bisa dengan memberi hal-hal yang baik kepada diri sendiri hingga menghasilkan "Surga Hari ini".


Untuk merubah diri sendiri kita menjadi pribadi yang lebih baik, kita memerlukan "Pola untuk merubah diri", bagaimana pola itu? kitalah yang harus berani mengatur dan memaksa diri kita untuk menaati pola yang kita bikin sendiri. Untuk melihat perkembangannya kita bisa mencatatnya, dengan pola tersebut apa saja yang sudah kita capai? apa yang belum kita capai. Jadi bisa mengevaluasi diri sendiri.

Kedua Standar Proses (sumber : Ibrahim : 24-26)
  1. Tumbuh
  2. Kokoh
  3. Mandiri
  4. Berdaya Guna
#Tumbuh, manusia itu tumbuh dan berkembang kemudian mati. Ini adalah sebuah siklus dimana tidak bisa dipilih, berapa umur kita. 
#Kokoh, menjadi pribadi yang tangguh
#Mandiri, menjadi pribadi yang mandiri
#Berdaya Guna, menjadi pribadi yang punya "power" dan mempunyai "Tujuan"

Kita sering kali lebih memilih "MERASA" menjadi "Korban" dari sikap diri kita sendiri. Harusnya kita berani memilih kehendak "BEBAS" yang bertanggung jawab, yaitu tidak mengeluh dengan Proses dan Hasil. Karena itu adalah pilihan kita tidak ada sebuah paksaan didalamnya. Hidup bukan berada ditangan orang lain, tetapi dalam genggaman pilihan kita masing-masing, dengan sebuah ketentuan dan ujian-ujian dariNya.
Bebas memilih, yang harus dipaksakan itu adalah mendekat kepada Allah. ;)

Rujukan yang digunakan dalam pembahasan AndroHid ini ada 2 kitab :
  1. Diri kita sendiri. Kenapa? karena diri kita adalah cerminan sikap kita dan cermin inspirasi untuk orang lain
  2. Al-Qur'an
Kembali lagi tentang diri kita sendiri. Pernahkah kita memilih dan mengeluh atas pilihan kita sendiri? Nah itu adalah satu kesalahan fatal, karena MENGELUH SAMA DENGAN MENCACI MASKI DIRI SENDIRI. Mungkin kata itu terlampau kasar buat diri saya pribadi, tapi itulah kenyataannya. Tidak ada yang memaksa kita untuk memilih, karena diri kita sendirilah yang menentukan pilihan itu. Jadi STOP MENGELUH, ganti dengan SYUKURI, NIKMATI dan LAKUKAN SATU PERUBAHAN UNTUK MENGISI KEKURANGAN DIRI SENDIRI. Karena itulah AKSI dari sebuah SOLUSI.


Share ilmu yang saya dapatkan hari ini. Semua hal yang baik hanya dari Allah, jika ada kata yang salah itu berasal dari saya sebagai manusia. 

Semoga Bermanfaat






Rabu, 14 Mei 2014

Aku adalah Aku

Aku, adalah aku
Setelah kami memusyawarahkan, maka diputuskanlah “fatma” sebagai ketua SIGi Periode 2014-2016.
Sungguh diluar dugaan, dan sampai sekarangpun aku masih belum mempercayai hal itu. Beawal dari BCBS yang pertama, yang menjadi lemparan tanggung jawab yang harus saya emban, dan keyakinan diri bahwa saya mampu melaksanakan itu.

Saya tidak pernah mengganggap diri saya sebagai pemimpin, karena sosok pemimpin itu tidak ada dalam diri saya sedikitpun, ini menurut penilaian saya pribadi. Bukan seorang  yang Tegas dan bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat, sama sekali bukanlah ideal untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi saya seolah perempuan. Terlepas dari itu semua, dengan bismillah saya menerima amanat itu, dan sampai sekian hari amanat itu saya terima saya belum pernah merasa menjadi pemimpin disini. Saya hanya mempunyai cinta untuk SIGi, cinta untuk anak-anak yang pernah terdidik dalam BCBS baik dalam periode 1 maupun periode 2. Karena dengan BCBS saya belajar banyak hal, bukan hanya mereka yang kami ajarkan, tetapi saya belajar untuk diri saya sendiri mengontrol diri, belajar dari mereka. Itu sungguh luar biasa, saya paling tidak suka dengan kata “mengajar” karena disini saya harus berbicara dan menjelaskan sesuatu dengan “lugas” dan “tepat” itulah konsep mengajar yang ada didalam otak saya. Tapi di BCBS inilah saya menemukan, mengajar itu menyenangkan, disinilah saya belajar membunuh kata “tidak suka” yang selama ini terbenam dalam otak saya, dan berbalik menjadi hal “yang menyenangkan”.  

Dengan amanah dalam BCBS saya belajar untuk menantang “Ketidak mungkinan” dengan hal minim menjadi “PASTI BISA”. Saya perempuan dan disinilah saya bisa mempelajari banyak hal tentang bagaimana tumbuh kembang seorang anak, sesuai dengan umurnya. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita lakukan untuk anak-anak, dan saya masih terus belajar.  

Saya memang belum mempunyai anak, tetapi saya mempunyai kesempatan menularkan ilmu yang saya dapat ntuk orang-orang yang ada disekitar saya, dan untuk berbagi dalam BCBS tentunya.


Inilah diri saya yang masih memerlukan “orang” yang “bisa” mengerti dan memacu semangat untuk bangkit. Selebihnya saya sendirilah yang akan menentukan pilihan langkah itu. 

Semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya.
Terima Kasih untuk Allah SWT
Terima Kasih untuk Ayah dan Ibu
Terima Kasih untuk “dekapan doaku”
Terima Kasih untuk para sahabat dan orang – orang yang saya sayangi.
Kalian semua adalah semangatku untuk “berdiri, tegak, kokoh namun tak kaku”

Bismillahirahmanirrahim....

Kamis, 06 Februari 2014

Rindu akan Pemimpin yang “Manusiakan Manusia”


Habibi di Mata Najwa (05 Februari 2014 , 20:00)

Subhanallah melihat beliau sungguh kagum, sangat mencintai bangsa ini. Sempet sebelumnya saya bertanya kepada diri saya sendiri, adakah pemimpin Indonesia yang menggunakan cara Rosulullah? Yaitu bukan hanya menggunakan “logika, dan ilmu” karena negara tidak bisa dipisahkan sedikitpun dengan DienMu., dalam Islam disebutlah ulil Amri

An –Nisa : 59
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rosul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) da lebih baik akibatnya.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan: Yang dimaksud dengan ulil amri adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yaitu penguasa dan pemerintah. (http://muslim.or.id/manhaj/ulil-amri.html). Nah melihat pernyataan tersebut, wajiblah bagi kita untuk menaati pemimpin kita. BJ. Habibie adalah salah satu Presiden Indonesia yang mengabungkan “logika, ilmu dan dien” dalam kesatuan yang utuh untuk memimpin negara ini. Kecerdasan logika yang diiringi dengan ilmu dariNya. Menurut bahasa saya bisa memanusiakan manusia.
Melihat beliau seperti itu, jadi membayangkan, bagaimana ketika zaman rosulullah dahulu ya? Kita adalah umat yang paling disayangi beliau karena kita tak penah melihat secara langsung ajaran-ajarannya, tetapi kita bisa terus belajar menjalankan ajarannya,dan mencintai beliau. Pak BJ. Habibie dengan segala kecerdasasan yang dimiliki oleh beliau, apalagi rosul? Subhanallah, pasti berlipat kali lebih dari beliau. Saya jadi membayangkan, apa yang akan terjadi pada Indonesia jika rosul memimpin Indonesia? Pasti sempurna. Saya secara pribadi merindukan sosok pemimpin yang tidak hanya mempunyai kecerdasan logika, tetapi juga memiliki kecerdasan hati yang bisa menyeimbangkan keduanya. Terlepas dari manusia yang mempunyai kelemahan tempat salah dan lupa, yang merupakan fitrah. Bukan sebuah alasan untuk tidak berusaha menjadi lebih baik.
Kagum ketika mendengar beliau ditentang dan melihat dari balik layar kaca, kemudian langsung memimpin sholat jamaah, ditemani oleh sang isri Ibu Ainun, dan anak-anaknya. Rasa syukur yang tinggi, ketika Allah melindunginya dan keluarganya. Mampu menahan “ego” cita-cita demi kemakmuran rakyat. Harta dan Tahta yang merupakan amanat telah dikerjakan dengan baik(insyaAllah), semua dikesampingkan demi “rakyat” , bukan malah memihak kepada golongan tertentu. Miris ketika melihat Baligho besar dijalan, tertuliskan nama Presiden kita mengucapkan “Imlek” , tetapi bukan sebagai “Presiden” melainkan sebagai ketua “Partai”. Sempat ngobrol dengan teman, kita ini punya “Presiden” atau “Ketua Partai” ? Pertanyaan yang sangat menarik, dan miris sekali.
Seseorang yang seharusnya menjadi “Ulil Amri” malah memihak kepada golongan tertentu, Bapak yang terhormat, tidakkah kamu malu dengan rakyatmu? Rakyat sangat mengagumi engkau tetapi engkau lebih bangga dikenal dengan “golongan” tertentu. Miris sekali.
Sempat melihat di acara televisi yang lain yang membahas tentang “Selfie” . Selfie adalah foto yang menarik, ditunjukkan salah satu foto Bapak dengan salah seorang PM negara tetangga, kenapa masih sempat melakukan hal itu? Manusiawi jika bapak lakukan diluar agenda kenegaraan, tetapi jika dilakukan dalam agenda kenegaraan? Apa kata masyarakat? Bapak bukanlah “Artis” melainkan “Pemimpin”. Terkadang saya juga berfikir, ketika pemimpinnya belum bisa memperbaiki diri, bagaimana dengan masyarakatnya?
Saat ini Indonesiaku tercinta sedang mengalami “Teguran” dariNya,. Sapaan halus, yang terkadang kita masih belum “nggeh” . Disini saya tidak menyalahkan siapapun, tetapi kembali kepada diri sendiri, apakah kita “nggeh” dengan sapaan yang Allah berikan itu? Masihkah kita berjalan dimuka bumi ini dengan sombong. Hello, Allah punya “Kun Fa Yaa Kuun”, yang bisa dengan mudah menganti umatnya dalam sekejap yang Allah inginkan.

Terlepas dari itu semua, ini hanya coretan saya atas apa yang yang saya lihat, rasakan dan saya dengar. Saatnya memperbaiki diri sendiri, dan aku selalu merindukan sosok “Pemimpin yang Memanusiakan Manusia”.